Pikiran, Memori, Ada, Hilang dan Mati

Warning: Tulisan ini mengandung alur yang membingungkan. Filsafat tanpa esensi, hanya mungkin katarsis. Pengalam pikiran bisa dibilang. Bagi yang tidak ingin pusing dan terlibat diskusi panjang, saya rekomendasikan untuk membaca tapi jangan diresapi. Hehe. Enjoy it!

 

Saya menyadari bahwa betapa pikiran sesorang sangatlah rapuh dan tidak konsisten. Bahkan pada bagian yang buruk, pikiran seseorang dapat dibajak, pembajakan mental istilahnya.

Pikiran kita dengan mudahnya dapat digantikan dengan pikiran/memori yang sebenarnya tidak pernah ada. Kok bisa? Ya, bisa. Kalau kalian belajar mendalami pikiran seseorang kalian akan menemukan sebuah tombol ajaib yang akan me-reset ulang semua pikiran yang ada. Saat kalian memencet tomobol tsb, kalian bisa memilih me-resetnya ulang atau hanya sekedar melihat kedalamnya. Saat segala pikiran di-reset, akankah kita menyadarinya? Saya tidak tahu, tidak pernah mencoba. Saya bahkan tidak yakin kalau pikiran/memori yang saya miliki sekarang ‘belum’ di bajak seseorang.

Saya jadi bertanya-tanya, dimanakah sebenarnya letak kebenaran dari pikiran?

Semenjak pikiran atau memori sangat mudah dipengaruhi, oleh emosi, oleh kejadian yang datang sesudah atau sebelumnya, atau oleh hal-hal lainnya. (coba baca note ttg Konstruksi masa lalu)

Lalu siapakah saya? saat saya tidak memiliki memori tentang saya. Dapatkah saya menjadi saya, saat tidak memiliki pikiran/memori tentang diri saya? Bagaimana dengan orang-orang yang saya cintai? Akankah tetap cinta saat kita sama sekali asing satu sama lain? Akankah saya menghilang saat memori saya hilang? Apakah pernah ada yang kebenaran sesungguhnya dalam pikiran atau memori kita?

Kata filsafat, kita berpikir maka kita ada. Yakin pikiran itu milik kita?

Kata yang lain kita tetap ada walaupun kita tidak berpikir. Sama seperti saat kita melihat bulan. Saat siang kita tidak dapat meihat bulan, akan tetapi kita tetap tahu bahwa bulan tetap ada ditempatnya. Itu karena kita punya memori tentang bulan. Begitu pula dengan keberadaan kita, walaupun kita tidak memikirkannya, nyatanya kita tetap ada, karena kita punya memori tentang diri kita. Tapi bagaimana jika memori itu hilang? Dibajak? Akankah kita tahu bahwa bulan tetap ada ditempatnya? Bagaimana jika keberadaan kita dihilangkan oleh seseorang yang punya kemampuan untuk itu? Menakutkan? Sangat. Tidak juga.

Saat memori kita dihilangkan, bumm, kita menghilang dari bumi ini, dari alam smesta. Tapi, apakah kita benar-benar tidak ada?? Atau kita hanya tergantikan?

Kalian tahu seseorang dinyatakan mati jika sinyal di layar Electroencephalography (EEG)-nya menujukkan garis flat. Tidak ada lagi sinyal kehidupan di otak. Begitukah kita mati? Saat tidak ada lagi sinyal kehidupan di otak? Saat memori kita hilang sepenuhnya? Kita menghilang karena kita mati, karena ketiadaan memori. Begitukah?

 

Notes: Maaf ini adalah hasil dari membaca sesuatu yang abstrak, menonton sesuatu yang mencengangkan tentang memori, saya jadi sedikit konslet. Tiba-tiba saja sangat ingin berfilsafat. Hehe. It just for fun, so take it easy🙂

Satu pemikiran pada “Pikiran, Memori, Ada, Hilang dan Mati

  1. Teringat ttg sebuah drama ttg psikologis. Dimana sang antagonis “mengubah” pikiran para korban dgn memanfaatkan kondisi emosional yg berhubungan dgn memorinya. Saya bukan ahli psikologis .. jd pd saat itu sy berpikir bahwa itu sejenis dgn hipnotis. . Tp trnyata ada ya istilah pembajakan mental.. ngeriiii….
    Nice post..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s