The Truth of Me:

Cast                 : Joan Fanning, Lee Chaerin, and Others

Length             : Very Long One Shot ;p

Genre              : Psychology, Complicated, Romance, Lesbian

Author             : Nisa Rengganis

Rated             : PG-19

*****

Prolog

Musim dingin, Januari 2015

Joan terduduk tak berdaya di balik pintu apartemennya. Kebenaran yang baru didengarnya tidak bisa dipercaya. Kebenaran mengenai dirinya. Kebenaran tersebut begitu melemahkannya, meremukkan tubuhnya, membuatnya terduduk tak berdaya. Kebenaran tersebut terasa sangat pahit, menyisakan segumpalan pekat di tenggorokannya. Joan tidak bisa menahannya lagi, ia menangis. Joan menangis sekeras-kerasnya, membebaskan gumpalan pekat yang menyakitkan tenggorokannya. Joan menangis. Dalam pikirannya, berkecamuk beragam memori, kenangan, dan hal-hal lainnya yang kesemuanya membentuk untaian benang kusut. Joan menangis semakin keras.

Chaerin aku membutuhkanmu..

***

Satu jam berlalu. Joan duduk di sofa dengan mendekap kedua kakinya. Ia sudah berhenti menangis. Pandangannya kosong menatap lurus ke arah pintu apartemennya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, Joan. Tapi orang tuamu meneleponku, mereka bilang kau mungkin butuh teman. Benar saja, kau terlihat sangat kacau saat ini Joan!”

Seorang wanita menghampiri Joan dengan dua gelas coklat hangat ditangannya.

“Minumlah, aku pikir kau membutuhkannya. Apa kau sudah makan malam?”

Joan melirik segelas coklat yang disodorkan wanita itu kepadanya, kemudian menantap wanita itu lekat-lekat. Wanita itu meletakkan gelas berisi coklat hangat itu di meja.

Well, Joan, kau tahu kau selalu bisa bercerita padaku. Aku selalu disisimu. Jadi apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa kau bertengkar dengan orang tuamu lagi karena hubungan kita?”

Joan mulai menangis lagi, tapi kali ini bukan tangisan yang keras. Tangisan Joan sangat lembut, tangisan penyesalan.

Wanita itu mengambil tangan Joan, menggenggamnya dengan erat. Ia mendekatkan tubuhnya kearah Joan. Dengan perlahan, wanita itu memeluk tubuh Joan. Malam itu, Joan menangis dalam pelukkannya.

Maafkan aku Chaerin..

*****

Musim gugur, September 2010

Joan menyusuri lorong asrama kampus, sembari menarik koper dan beberapa barang. Satu tangan yang lainnya menggenggam secarik kertas. Kamar 209. Ia mengecek setiap papan penanda nomor kamar disetiap pintu. Joan menemukannya, kamar 209, terletak di ujung lorong tersebut.

Joan mengetuk kamar itu. Tidak ada jawaban. Joan berpikir mungkin teman sekamarnya belum datang. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan kunci kamar tersebut miliknya. Pintu kamar terbuka.

“Ah, maafkan aku, kau pasti menunggu lama. Aku baru saja mandi, silakan masuk.”

Seorang wanita membukakan pintu untuk Joan, sesaat sebelum Joan membuka pintu itu sendiri. Dari penampilannya, yang hanya melilitkan handuk sekenanya, jelas terlihat wanita tersebut terburu-buru keluar dari kamar mandi.

“Hey! Apa kau tidak akan masuk? Aku harus memakai baju.”

Joan tersentak, disadarinya bahwa ia terpana melihat penampilan ‘mengejutkan’ wanita itu.

Joan memasukkan kembali kunci yang tadi dirogohnya ke dalam saku dan melangkah masuk ke apartemen. Wanita itu mengikuti Joan masuk, satu tangan memegang handuknya yang sepertinya mau lepas, dan satu tangannya lagi menutup pintu.

***

“Aku sungguh minta maaf atas penampilan mengejutkanku. Aku sungguh terburu-buru.”

“Tidak masalah, justru aku yang harus minta maaf”

Joan mulai menyusun barang-barang miliknya selagi wanita itu memakai baju.

“Aku Chaerin, Lee Chaerin. Mahasiswa psikologi angkatan tahun ini”

“Aku Joan. Joan Fanning. Sama sepertimu, mahasiswa psikologi angkatan tahun ini”

“Wah, benarkah? Hebat! Ayo kita menjadi teman baik!”

Chaerin menatap Joan dengan lekat, senyumnya merekah sangat lebar. Joan terpana. Ia tidak pernah melihat senyuman selebar itu. Senyuman dan tatapan Chaerin hari ini, nantinya tidak akan dia lupakan, dan akan selalu ia rindukan.

***

Musim dingin, Desember 2011

Ini sudah setahun, Joan dan Chaerin adalah teman baik sekarang. Mereka bersama-sama juga menjadi pasangan mahasiswa terbaik diantara teman-teman seangkatan mereka.

“Aku akan balik ke Korea, liburan tahun baru. Apa kau akan ikut Joan?”

“Chaerin kau tahu, aku tidak bisa. Aku harus menyelesaikan proyek dari dosen.”

“Ya, kau benar. Aku sungguh minta maaf tidak bisa menemanimu”

“Tidak, jangan seperti itu. Pulang dan bersenang-senanglah di Korea”

“Aku harap kita bisa menghabiskan liburan tahun baru bersama”

“Aku minta maaf”

***

Joan tiba di bandara Incheon. Proyek dosen yang dikerjakannya selesai lebih cepat dari perkiraan. Joan akan menghabiskan malam tahun baru dengan Chaerin, di Korea.

“Joan! Disini!”

Joan menoleh kearah teriakan itu. Ia sangat senang bisa melihat Chaerin. Joan sangat merindukan Chaerin.

Mereka berdua saling berpelukan dengan erat. Beberapa pasang mata di bandara, memandang mereka dengan aneh. Ya, pelukkan mereka memang sedikit berbeda. Pelukkan yang sangat erat, bagai sepasang kekasih yang tidak bertemu selama bertahun-tahun.

***

Musim semi, April 2012

Chaerin memasukkan barang-barangnya ke dalam koper dan kardus-kardus. Ia bersiap untuk pergi. Joan dengan tergesa-gesa memasukki kamar.

“Apa kau serius, Lee Chaerin? Kau akan pergi?” Nada suara Joan sedikit terkesan marah.

“Kalau aku pergi sekarang, aku masih sempat transfer untuk mengikuti awal smester gugur di Korea” Chaerin menjawab tanpa menatap Joan, masih sibuk dengan barang-barangnya.

“Kau tahu, kau tidak perlu melakukannya Chaerin. Kita bisa bersama disini. Kenapa kau ingin pergi dariku?” Kali ini, Joan terdengar seperti seseorang yang mengiba.

Chaerin menatap Joan dengan tajam.

“Apa yang kau maksud bersama Joan? Apa kau gila? Kita tidak bersama! Aku harus pergi darimu!” Chaerin membentak Joan, kemudian kembali memasukkan barang-barangnya. Kali ini, Chaerin memasukkan barang-barang dengan kasar.

“Joan, kau pikir hubungan ini akan berhasil. Tapi tidak denganku! Hubungan ini tidak masuk akal untukku, untuk keluargaku, atau untuk siapapun juga!”

Chaerin terduduk di ranjangnya. Ia berhenti dari aktivitasnya. Joan mencoba menghampiri Chaerin.

“Tidak! Jangan mendekat Joan!”

Joan menghentikan langkahnya.

“Apa maksudmu tidak akan berhasil Chaerin? Saat ini banyak pasangan seperti kita yang bisa hidup bersama. Aku tahu kau juga menginginkannya, Chaerin. Kita bisa bersama…”

“Itu mereka Joan! Bukan kita! Aku tidak seperti mereka! Aku tidak menyukai sesama jenis, kita hanya sahabatan! Keluarga kita juga tidak akan menerimanya, Joan. Jadi aku harap cukup.. cukup..”

 “Aku menyayangimu, Joan,… sebagai sahabat. Karena itu, aku ingin kau bisa normal. Hubungan kita bisa normal”

Chaerin menatap Joan dengan mata berkaca-kaca.

“Baiklah, aku mengerti Chaerin. Jika kau tidak menginginkan hubungan ini, kita bisa berhenti. Kau bisa pergi. Tapi jangan minta aku untuk menjadi normal. Aku mencintaimu Chaerin…”

Joan keluar dari kamar, meninggalkan Chaerin sendiri.

Chaerin kembali mengemasi barang-barangnya. Tanpa terasa, air mata Chaerin menetes.

***

Musim dingin, Januari 2015

Cahaya matahari menelusup dari sela-sela gorden kamar Joan yang tidak tertutup rapat. Joan mengerjapkan matanya yang terasa sangat berat, efek dari menangis sepanjang hari kemarin.

Joan melangkahkan kaki ke kamar mandi, untuk mencuci wajahnya. Joan melihat sosok mengerikan di kaca. Sesosok wanita dengan mata membengkak, hidung merah, dan rambut yang berantakan. Tampak seperti seorang wanita yang depresi dan putus asa. Ya, aku memang depresi dan putus asa, pikir Joan.

Joan kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang tengah, mencari seseorang yang semalaman menemaninya, Chaerin. Joan memandang sekeliling ruang apartemennya, tapi sosok Chaerin tidak terlihat. Hanya ada semangkuk nasi, dan beberapa lauk tersaji di meja makan, dengan secarik kertas memo. Joan membaca memo tersebut.

Joan sayang,

Aku tahu kau pasti terlihat seperti wanita depresi dan putus asa. Tapi kau yang sesungguhnya tidak seperti itu! Kau kuat, Joan! Jadi makanlah, dan istirahat. Semua akan baik-baik saja. Maaf aku ada rapat, Aku akan mengunjungimu malam nanti. Habiskan makannya, sayang!

Dari Chaerin yang selalu disisimu..

NB: Aku sarankan kau untuk tidak keluar rumah hari ini. Kau akan menakuti orang-orang :p

Joan tersenyum melihat memo itu. Ia tahu bahwa Chaerin adalah satu-satunya orang yang bisa menenangkannya. Joan duduk dan mulai memakan makanannya. Joan merasa, perkataan Chaerin benar, ia adalah orang yang kuat. Lagipula kebenaran yang baru diketahuinya membuka jalan untuk hubungannya dengan Chaerin. Mereka bisa bersama. Hanya saja, Joan begitu emosional kemarin, ia masih merasa bersalah pada Chaerin, pada wanita yang ia cintai. Itu sebabnya, ia merasa sangat frustrasi kemarin.

***

Musim Semi, Mei 2014

Joan turun dari mobilnya. Ia berjalanke arah lift apartemen, saat seseorang memanggil namanya.

“Joan!”

Joan menoleh kearah suara tersebut. Terkejut bukan main dirinya, saat melihat sosok yang memanggilnya. Itu adalah Chaerin, wanita yang selama ini dan selalu dicintainya. Chaerin, wanita yang pergi darinya beberapa tahun lalu. Wanita itu, Chaerin kini dihadapannya, dan mungkin akan kembali padanya.

***

Chaerin berkeliling melihat seisi ruangan apartemen. Joan menyiapkan minuman untuk mereka berdua.

“Jadi, dengan siapa kau tinggal disini?”

Joan membawa minuman ke arah meja. Chaerin menuju ke arah meja.

“Aku tinggal sendiri Chaerin.”

“Benarkah aku tidak percaya!”

Mereka berdua duduk di sofa. Terasa atmosfir canggung diantara mereka. Chaerin mengambil minuman dan menyesapnya dengan cepat.

“Aww, panas!” pekik Chaerin. Joan tertawa kecil melihat Chaerin menyesap teh panas yang dibuatnya.

“Apa kau menertawaiku Joan? Ini tidak lucu! Kau tidak bilang bahwa tehnya panas!”

Chaerin terlihat sebal. Joan berhenti tertawa dan mengambil sekotak tisu yang ada disampingnya. Joan memberikan tisu itu ke Chaerin. Chaerin mengambil tisu itu, masih terlihat sebal kepada Joan.

“Kau masih sama seperti dulu, Chae, lucu dan spontan.”

Joan tersenyum kearah Chaerin. Ucapan Joan barusan membuat wajah Chaerin merona merah.

“Aku ingin kembali kepadamu, Joan. Bisakah kita kembali bersama?”

Chaerin menatap malu kearah Joan. Wajahnya semakin merona merah.

***

Joan tidak pernah menyangka bahwa ia bisa kembali bersama Chaerin. Saat Chaerin meminta kembali bersama, jantung Joan terasa berdetak dengan sangat cepat, ia bisa terkena serangan jantung. Joan sangat senang saat itu.

Chaerin bercerita bahwa selama kembali ke Korea, ia tidak bisa melupakan sosok Joan. Ia berkencan dengan beberapa pria selama di Korea tapi tidak pernah merasa bahagia, seperti saat ia bersama Joan. Chaerin menyadari bahwa dirinya juga sangat mencintai Joan. Chaerin menyatakan bahwa dirinya berusaha menyampaikan tentang dirinya yang sesungguhnya ke keluarganya. Tentu saja, keluarga Chaerin sangat marah padanya. Mereka berusaha untuk mengembalikan Chaerin ke kehidupan normal. Akan tetapi hal itu sia-sia, Chaerin menyerah untuk berusaha hidup normal, terus membohongi perasaannya. Keluarga Chaerin mengusir Chaerin, yang menurut Chaerin hal tersebut adalah hal terbaik yang dilakukan keluarga untuk dirinya. Membiarkan Chaerin kembali pada cintanya dan bahagia.

Butuh enam bulan sebelum akhirnya Chaerin menemui Joan dan meminta kembali bersama. Chaerin pikir dirinya tidak pantas menemui Joan begitu saja setelah meninggalkan Joan. Chaerin pun merasa harus menata hidupnya dulu, sehingga ia bisa menemui Joan sebagai sosok yang akan bisa dibanggakan Joan. Selama enam bulan, Chaerin mencari kerja dan berhasil menapak karirnya. Walaupn belum mencapai puncak, setidaknya Chaerin punya karir.

Joan menghargai setiap usaha Chaerin sampai bisa kembali kepadanya. Segala usaha itu, membuat Joan semakin mencintai Chaerin.

Joan ingin menikah dengan Chaerin…

***

Musim gugur, September 2014

Joan melamar Chaerin untuk menikah dan menjadi pasangannya sepanjang sisa hidup mereka. Tentu saja, Chaerin dengan berderai air mata menerima lamaran dari Joan. Bagi Chaerin, tidak ada orang lain yang bisa menemaninya, membuatnya bahagia sepanjang sisa hidupnya, selain Joan. Ia sangat mencintai Joan. Begitu pula Joan sangat mencintai Chaerin. Mereka saling mencintai satu sama lain.

Joan dan Chaerin ingin segera melaksanakan upacara pernikahan. Akan tetapi, ada banyak hal yang harus mereka urus. Walaupun pernikahan sesama jenis dilegalkan di Amerika, tetap saja ada banyak berkas dan hal yang harus dipersiapkan. Mereka juga tidak ingin pernikahan ini menjadi biasa saja. Ini pernikahan satu kali seumur hidup mereka. Mereka ingin pernikahan ini menjadi yang momen yang luar biasa dalam hidup mereka.

Joan dan Chaerin mempersiapkan segalanya. Mereka semakin rajin bekerja dan mencari uang. Setelah mereka menikah, mereka ingin mengadopsi seorang anak. Hal tersebut membuat mereka semakin harus berkerja keras dalam pekerjaan dan mempersiapkan berkas-berkas lainnya, agar aplikasi adopsi mereka diterima. Mereka merencanakan dan mempersiapkan dengan baik.

Bulan Mei tahun depan mereka akan menikah, dan menjadi keluarga satu sama lain. Saling menjaga. Saling mencintai.

***

November, 2014

Joan mengunjungi rumah kedua orang tuanya bersama Chaerin. Mereka bermaksud untuk menyampaikan rencana pernikahan mereka. Keduanya, tidak berharap banyak bahwa Tuan dan Nyonya Fanning akan menerima rencana mereka begitu saja. Mereka hanya bermaksud baik untuk tidak menyembunyikan hubungan mereka dari keluarga Fanning.

Menurut mereka baik keluarga Lee maupun keluarga Fanning harus mengetahui rencana mereka untuk menikah. Tentu, Chaerin sudah menyampaikan rencana ini kepada keluarga Lee dan reaksi mereka tentu saja menolak, memilih untuk tidak peduli lagi terhadap urusan Chaerin. Sekarang giliran, menyampaikan kepada keluarga Fanning.

“Kami akan menikah musim semi tahun depan. Kami sudah mempersiapkan segalanya”

Joan menggenggam tangan Chaerin semakin erat. Chaerin tahu bahwa Joan sangat grogi saat ini, ia pun membalas genggaman Joan dengan erat pula, mencoba menguatkan Joan.

“Apa kalian tahu konsekuensinya?”

Tuan Fanning mencoba tetap tegar, walaupun dirinya sangat terkejut. Nyonya Fanning sudah menangis seraya menutup mulutnya dengan tangan agar suara tangisannya tidak terdengar keras.

“Kami tahu konsekuensinya. Kami tidak perlu persetujuan kalian untuk menikah. Ini Negara bebas, dan penikahan kami legal dan dilindungi hukum.”

Joan melonggarkan genggamannya. Reaksi ayahnya yang tetap tenang, sedikit meringankan rasa groginya. Sebelumnya, Joan sangan grogi dan takut jika ayahnya akan memakannya hidup-hidup saat ia menyampaikan rencananya.

Ayah Joan adalah teman curhat terbaik bagi Joan. Akan tetapi, sewaktu Joan bercerita bahwa dirinya menyukai teman wanita sekelasnya di SMA, mata ayah Joan berkilat marah. Ayah Joan tidak bicara apa-apa saat itu dan hanya menyuruh Joan untuk langsung tidur. Saat itu, Joan menyadari bahwa ceritanya tidak menyenangkan bagi ayahnya. Semenjak itu, Joan selalu menyembunyikan ketertarikannya terhadap wanita.

“Lakukanlah yang ingin kau lakukan. Aku pikir aku sudah mengira hari ini akan datang. Aku tidak bisa menghentikanmu.”

Nyonya Fanning menangis semakin keras. Tuan Fanning mengajak istrinya menuju kamar, meninggalkan Joan dan Chaerin diruang tengah rumah itu.

“Ini sudah malam, kalian sebaiknya menginap. Joan, kau tahu dimana kamarnya.”

Ucap tuan Fanning sebelum akhirnya menghilang menuju kamar.

Joan menghempaskan tubuhnya di sofa. Chaerin duduk disampingnya dan mengusap punggung telapak tangan Joan.

“Apa ini baik?” Chaerin bertanya pada Joan.

“Tentu saja, ini baik” Joan tersenyum ke arah Chaerin. Ia tahu, Chaerin sangat mengkhawatirkannya.

Joan merasa senang akan reaksi ayahnya. Akan tetapi, ia juga merasa aneh. Kemana kilat marah yang waktu itu dilihatnya. Ayahnya sangat pasrah kali ini. Apakah ayah sudah tahu tentang hubungannya dengan Chaerin selama ini? Joan memejamkan matanya, dan menyandarkan kepalanya di bahu Chaerin.

“Lima menit, setelah itu kita pergi ke kamar”

Chaerin hanya mengusap tangan Joan.

***

Musim dingin, Januari 2015

Tuan Fanning meminta Joan untuk datang kerumah. Nyonya Fanning, ibu Joan, jatuh sakit dan ingin bertemu dengan Joan.

Tanpa pikir dua kali, Joan menancap gas menuju rumah orangtuanya. Joan tidak tahu bahwa kebenaran mengenai dirinya akan terungkap hari itu.

***

Nyonya Fanning kembali tidur, setelah Joan menyuapinya makanan dan obat. Joan memandang ibunya dengan sedih. Ada sedikit perasaan bersalah menelisip dalam hati Joan.

Maafkan aku ibu,.. memiliki anak yang ‘berbeda’, tentu sangat berat bagimu.. Ini pun sangat berat bagiku..

Joan keluar kamar. Tuan Fanning tengah duduk di sofa dengan mata terpejam. Joan menghampiri tuan Fanning dan duduk disampingnya.

“Apa ibumu sudah tertidur?”

Mata tuan Fanning masih terpejam.

“Sudah”

Joan mengucap pelan. Ia sebenarnya sedikit takut dan ragu duduk disebelah ayahnya.

“Chaerin baik-baik saja? Bagaimana persiapan kalian?” Masih dengan mata terpejam.

“Baik-baik saja dan persiapannya juga baik”

“Syukurlah..”

Tuan Fanning bangkit dari sandarannya. Matanya kini tidak lagi terpejam, menatap tajam kearah Joan.

“Ibumu memintaku memberitahumu sesuatu, tapi aku menolak. Ia kemudia jatuh sakit. Jadi aku pikir aku harus memberitahumu sesuai permintaan ibumu.”

Tuan Fanning beranjak dari duduknya. Ia mengambil beberapa berkas, yang sepertinya adalah album foto dan rekam medis. Joan tidak pernah melihat berkas itu selama ia tinggal di rumah orangtuanya. Jika ia tidak pernah melihatnya, berarti orangtuanya benar-benar menyembunyikan berkas itu darinya. Berkas apa itu sebenarnya? Apa yang ingin ayah sampaikan?

***

Joan duduk di kursi yang ada sepanjang koridor. Joan menunggu dirinya dipanggil untuk berkonsultasi dengan dokter.

Jika ini berhasil aku akan bisa memberi Chaerin hidup yang normal.. maafkan aku Chae..

Nama Joan dipanggil suster. Joan memasukki ruangan konsultasi. Seorang pria paruh baya, mengenakan jas putih, menyambut Joan dengan senyuman bersahaja. Senyuman khas dokter.

“Jadi, Joan apa yang membawamu kesini?”

Dokter Jared membuka percakapan. Joan sedikit ragu, tapi bayangan Chaerin membuatnya kembali bertekad.

“Orangtuaku sudah memberitahuku, semuanya dokter. Aku rasa kau tau yang kumaksud”

Wajah dokter Jared berubah pucat. Ia ingin berkata-kata tetapi tidak bisa, tidak ada kata yang keluar.

“Aku tidak akan menyalahkanmu. Itu bukan salahmu. Kau hanya mencoba menolong.”

Raut wajah dokter Jared berangsur-angsur kembali seperti semula.

“Aku hanya ingin meminta kau untuk menolongku lagi. Aku ingin mengembalikan kehidupan wanita yang kucintai, jadi tolong kembalikan kehidupanku sebagai pria”

Dokter Jared menghela nafas.

***

November 1988

Rumah sakit terlihat sangat sibuk dan kacau. Para wartawan berada didepan, mencoba mencari kebenaran. Sebuah kejadian diduga kasus malpraktik dilakukan oleh seorang dokter dirumah sakit itu. Seisi warga kota, menjadi sangat ingin tahu sekaligus marah.

Salah seorang dokter magang, tanpa sengaja melakukan kesalahan saat melakukan operasi khitan seorang bayi laki-laki berusia tujuh bulan, membuat rusak penis bayi tersebut. Orang tua sang bayi tidak bisa terima akan kejadian tersebut dan melaporkan kejadian tersebut kepolisi.

Setelah melewati beberapa kali persidangan, akhirnya sang dokter magang tersebut menerima hukuman penjara selama lima tahun dan di tarik gelar dokternya. Walaupun kejadian tersebut tanpa sengaja, pengadilan tetap menilai sang dokter bersalah dan pantas dengan hukuman  tersebut.

Pihak rumah sakit, merasa bertanggung jawab dan mengusulkan pengobatan untuk si bayi. Dr. Mooley, seorang ahli yang disegani pada bidang itu, merekomendasikan agar bayi laki-laki tersebut dikastrasi, dibuatkan vagina buatan, estrogen di administrasikan kepadanya pada masa pubertas untuk memfeminimkan tubuhnya dan dibesarkan sebagai anak perempuan. Setelah melalui banyak pertimbangan, orang tua bayi tersebut, tuan dan nyonya Fanning, setuju dengan saran dokter. Mereka mulai saat itu membesarkan seorang anak perempuan, yang diberi nama Joan Fanning.

***

Januari, 2015

“Aku berharap kau bisa membantuku dokter. Segala esterogen yang kau resepkan mungkin bisa memfenimkan diriku tapi aku tetap laki-laki. Aku mencintai seorang wanita dan hampir membuatnya sebagai pasangan lesbi, jika aku tak tahu kebenarannya. Aku ingin hidupku dan hidupnya normal”

Joan mengucap dengan putus asa. Dokter Jared menghela nafas lagi kali ini lebih panjang. Dokter Jared tahu bahwa hari ini akan tiba, tapi ia sama sekali tidak menyangka hal ini tiba disaat terakhirnya sebagai dokter. Ia akan pension akhir tahun ini.

“Dokter, aku mohon.. Tolonglah aku sekali lagi”

Joan mengiba. Dokter Jared tahu apa yang dirasakan Joan dan bagaimana ia benar-benar menginginkan dirinya kembali menjadi pria. Selama dua belas tahun, Dokter Jared menjadi dokter bagi Joan menggantikan dokter Mooley yang tutup usia. Selama itu pula, Joan tidak pernah lepas dari pengawasannya. Joan bagaikan anak kandung baginya. Mereka sering bercerita bersama. Dokter Jared bahkan adalah seorang yang menyarankan Joan untuk masuk psikologi agar Joan bisa mempelajari lebih banyak tentang orientasi seksualnya yang berbeda dan menerimanya.

“Aku bisa melakukan mastectomy (penghilangan buah dada melalui operasi) dan phaloplasty (pembuatan penis melalui operasi) dan memberimu androgen untuk mengembalikan kemampuanmu sebagai laki-laki.”

Raut wajah Joan berubah menjadi lebih cerah. Joan bahkan tersenyum lebar.

“Aku akan melakukannya! Orangtua ku juga akan setuju, mereka menyerahkannya padaku! Jadi ayo lakukan dokter!”

Joan bersemangat. Akan tetapi, raut wajah dokter Jared menunjukkan sebaliknya. Ia tampak sangat khawatir.

“Kau tahu Joan, walaupun aku melakukan itu, kau tetap tidak bisa menjadi laki-laki. Apa kau tetap ingin melakukannya?”

Rau wajah Joan sedikit meredup tapi kemudian kembali berkilat.

“Apa maksudmu tidak bisa menjadi laki-laki? Aku akan menjadi laki-laki dokter dengan semua prosedur yang kau sebut tadi. Ayo kita lakukan!”

Untuk kesekian kalinya dokter Jared menghela nafas.

“Kau, karena kastrasi yang begitu dini, kau kehilangan kapasitas reproduksimu secara permanen. Kau tidak akan bisa mempunyai anak. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk yang satu ini”

Joan menundukkan pandangannya. Dokter Jared menatap Joan dengan khawatir. Joan meninggalkan ruangan konsultasi.

“Aku akan datang lagi, dokter”

***

Setelah beberapa hari menyembunyikan kebenaran mengenai dirinya dari Chaerin, hari ini Joan memutuskan untuk memberitahu Chaerin. Joan juga merasa membutuhkan saran Chaerin, untuk hal yang dibicarakannya dengan dokter Jared siang tadi.

Joan menceritakan seluruh kisah hidupnya kepada Chaerin secara runtut. Ekspresi wajah Chaerin berubah-ubah selama mendengar cerita Joan. Chaerin mengernyit ngeri, marah, khawatir, sedih, berkaca-kaca, meneteskan sedikit air mata dan kemudian tersenyum bahagia saat Joan menutup cerita dengan cerita konsultasinnya dengan dokter Jared siang tadi.

“Kau harus melakukannya Joan sayang… Ups atau aku harus mulai memanggilmu John? Haha”

Chaerin tertawa kecil. Joan merasa aneh dengan reaksi Chaerin yang berbeda dari ekspektasinya. Ia kira Chaerin akan marah atau kecewa, tapi ternyata dengan tatapan lembut dan senyumannya, Chaerin terlihat bahagia dan santai. Joan meras pertama kali melihat Chaerin berekspresi seperti itu.

“Aku tahu kau bingung dengan reaksiku. Tentu aku tidak marah atau kecewa, aku malah bahagia. Kau bisa tahu mengenai jati dirimu yang sebenarnya”

Chaerin tersenyum sangat lebar. Joan ragu-ragu.

“Tapi aku tidak akan punya anak Chaerin. Tidak bisa memberimu anak.”

“Joan sayang, semenjak aku minta kembali padamu dan menerima lamaranmu. Aku sudah memikirkan segala konsekuensinya, termasuk bahwa aku tidak bisa memiliki anak. Karena itu kita mengadopsi anak. Kita sudah mempersiapkannya, Joan.”

“Tapi Chae..”

“Sttt.. Kau wanita atau kau pria, kau lakukan operasinya atau tidak, aku mencintaimu. Hanya kau, yang aku cintai. Aku sudah sangat bahagia bisa mencintaimu..”

“Aku juga mencintaimu, Chae. Sangat.”

“Kau tidak perlu merasa terpaksa mengembalikan kehidupanku. Kita bisa menjalani kehidupan yang kita suka..”

“Tidak Chae, aku akan melakukannya, mengembalikan hidupmu dan hidupku. Menjadikan kehidupan kita setidaknya terlihat normal”

“Kalau begitu, ayo kita lakukan sayang. Bersama-sama. Aku selalu disisimu”

***

Maret 2015

Joan melakukan prosedur yang menjadikannya kembali sebagai laki-laki. Chaerin ada disampingnya untuk mendampingi. Dokter Jared melakukan prosedur dengan sangat hati-hati. Joan mungkin adalah pasien terakhirnya yang sangat ingin ia selamatkan. Ia akan lakukan yang terbaik. Tuan dan Nyonya Fanning ikut mengawasi segala prosedur yang dijalankan oleh Joan. Mereka ingin memastikan bahwa kehidupan Joan akan benar-benar kembali.

***

Mei 2015

John dan Chaerin menikah. Pernikahan mereka dihadiri oleh banyak teman dan kenalan yang merasa takjub dengan pernikahan John dan Chaerin. Beberapa bulan lalu, mereka sudah cukup takjub dengan rencana pernikahan pasangan lesbi Joan dan Chaerin. Akan tetapi, pernikahan hari yang terjadi hari ini adalah penikahan normal antara pasangan lawan jenis, John Fanning dan Lee Chaerin.

Keluarga besar Fanning datang menghadiri pernikahan John dan Chaerin. Raut wajah mereka terlihat lega dan puas. Mereka tidak punya rahasia yang harus disembunyikan lagi dan kini John sudah mendapat kehidupannya kembali.

Tanpa diduga, keluarga Lee juga menghadiri pernikahan John dan Chaerin. Tidak ada alasan lagi bagi keluarga Lee untuk tidak menghadiri pernikahan ini, pernikahan ini adalah pernikahan normal. Orangtua Chaerin bersuka cita melihat putri mereka menikah dengan seorang ‘pria’ yang dicintainya.

Pernikahan hari ini, benar-benar merupakan pernikahan yang diimpikan oleh John dan Chaerin. Semua orang bersuka cita dalam pernikahan hari ini. John dan Chaerin merasa sangat bahagia. Kebahagiaan mereka akan semakin lengkap, saat seminggu lagi seorang bayi akan hadir diantara mereka. Keluarga kecil yang selama ini mereka impikan akan terwujud.

*****

Epilog

Sirine mobil polisi dan paramedis menderu-deru. Kilat cahaya lampu menyala-nyala dihalaman rumah John dan Chaerin. Kerumunan tetangga turut memenuhi halaman itu. Mereka berdiri dibelakang garis kuning polisi. Sebuah kejadian mengejutkan terjadi hari itu.

Chaerin tergulai lemas dengan pakaiannya yang berlumur darah. Pandangannya kosong. Tubuhnya bersandar pada tubuh seorang wanita, yaitu Nyonya Fanning, ibu mertuanya. Disamping mereka berdua, petugas paramedis bersiaga.

Cluee Fanning, menggenggam bonekanya dengan erat dalam gendongan kakeknya, tuan Fanning. Cluee masih belum mengerti hal yang sedang terjadi. Usianya baru tiga tahun.

Sore tadi, John Fanning ditemukan sekarat didalam kamar mandi oleh istrinya. Tubuhnya tergeletak didalam bak kamar mandi yang kosong dengan sebuah luka tembak di kepala. Tangan John memegang pistol miliknya. John diperkirakan bunuh diri, saat rumah dalam keadaan kosong. Chaerin dan Cluee, sore itu sedang berbelanja di supermarket tak jauh dari lingkungan tersebut. Chaerin yang menemukannya, mencoba menutup luka agar darah tidak mengalir terlalu banyak. Chaerin juga menelepon 911. Tapi John tidak tertolong. Tampaknya John tahu bagian kepala sebelah mana yang akan membuatnya langsung mati.

Tidak ada yang salah dalam kejadian ini. John murni bunuh diri. Motif bunuh diri diketahui adalah karena trauma emosional yang masih dirasakan sangat berat oleh John mengenai jati dirinya. John menulis surat, yang menyatakan ia sangat bahagia bersama Chaerin dan Cluee tapi ia juga tertekan dan merasa sangat berat dengan jati diri yang sebenarnya.

-Teruntuk Chaerin dan Cluee-

Dua orang dari tiga wanita yang sangat kucintai didunia ini

Aku sangat bahagia memiliki kalian. Aku sangat bahagia bisa menjalani hidup ‘normal’ bersama kalian. Kalian adalah bagian ‘normal’ dalam hidupku. Aku mencintai kalian.

Maaf aku meninggalkan kalian, aku ingin kalian tetap hidup secara normal setelah kepergianku.

Aku hanya tidak bisa lagi, tidak tahu lagi, tidak memahami.. Aku tidak bisa menjadi suami dan ayah. Aku masih kurang dan ‘berbeda’…

Maaf, terima kasih, aku mencintai kalian.

NB: sampaikan rasa sayangku kepada kedua orangtuaku yang telah melakukan yang terbaik untuk anaknya ini.

Hidup dan mati dengan bahagia dan damai

-Joan/John Fanning-

-TAMAT-

Referensi:

Sebagian besar ide dalam cerita ini diambil dari sepotong kisah nyata dalam buku Biopsikologi:

Pinnel, John P.J. 2012. Biopsikologi Edisi Ketujuh. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sedangkan untuk cerita cinta, keluarga, sebab bunuh diri, dan cerita lain yang tidak tertera pada buku referensi diatas adalah karangan fiksi dari penulis.

©Nisa Rengganis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s