GGS vs Twilight, perpektif budaya kah?

Selama liburan kemarin, saya melihat bahwa saat ini tayangan-tayangan televisi Indonesia di jam prime time didominasi oleh sinetron-sinetron berbau supernatural, seperti Ganteng-ganteng serigala (GGS), Tujuh Manusia Harimau, dsb. Tayangan-tayangan tersebut menempati ratting yang lumayan tinggi. Banyak penggemar (dari kalangan muda sampai tua) yang menggandrungi baik sinetronnya ataupun pemeran dalam sinetron tersebut.

Akan tetapi, seperti segala sesuatu yang memiliki dua sisi, sinetron-sinetron supernatural semacam ini juga memiliki sisi negatif. Banyak masyarakat yang mulai melakukan gerakan untuk protes kepada Komite Penyiaran Indonesia untuk menghentikan tayangan sinetron tersebut. Beberapa adegan dinilai tidak etis, banyak adegan romatis yang tidak seharusnya ditayangkan, serta cerita yang dianggap tidak masuk akal. Beberapa orang tua menyatakan bahwa anak-anaknya terpapar tayangan yang tidak mendidik, malah membahayakan bagi perkembangan mental dan moral anak.

Saya setuju dengan kelompok masyarakat yang kontra diatas dan segala argumentasinya. Saya juga merasa bahwa sinetron-sinetron tersebut kurang mendidik. Akan tetapi, beberapa saat lalu saya mengkaji lagi alasan mengapa saya kontra dengan sinetron-sinetron tersebut.

Di sisi lain, saya sebenarnya juga menikmati film/tayangan berbau supernatural. Walaupun saya tidak menonton GGS, saya merupakan penonton setia dari drama sci-fiction dengan judul “Supernatural” yang ditayangkan oleh CW. Cerita drama Supernatural juga berbau hal-hal seperti GGS, malah lebih luas melibatkan bukan hanya vampir dan serigala, tapi juga iblis, malaikat, dan monster lainnya. Terus mengapa saya kontra pada GGS dan pro pada Supernatural?

Dari segi adegan, tentu saja adegan di drama Supernatural “lebih romantis dan intim” daripada adegan GGS. Lalu kenapa saya masih baik-baik saja menonton drama Supernatural?

Banyak dari masyarakat adalah mungkin pecinta dari tayangan supernatural buatan luar negeri lainnya seperti Harry Potter, Twilight, dsb. Beberapa orang tua baik-baik saja jika anak mereka menonton tayangan luar negri tersebut padahal mereka kontra terhadap tayangan dalam negri (GGS, TMH). Bahkan saat kita tau, bahwa ada adegan “romatis” di Harry Potter atau Twilight, kita masih membolehkan anak-anak menontonnya.

“Loh kan yang luar negri sudah disensor”

Kadang-kadang kita berargumen seperti itu. Tapi pikir lagi, GGS, TMH, dll juga sudah lulus sensor, loh. Kalo tidak, tidak mungkin bisa ditayangkan.

“Tapi adegannya tidak mendidik, ceritanya juga” 

Saya bertanya pada diri saya, bagian mana dari Harry Potter, drama Supernatural yang membawa pesan pendidikan? Saya menikmati kedua tayangan tersebut hanya karena menghibur. Saya menghargai imajinasi luar biasa dari penulis cerita, telah membuat cerita yang kita terkadang tidak pikirkan. Saat bicara tentang sci-fiction, saya selalu merasa bahwa penulis-penulisnya memiliki imajinasi yang tidak terbatas, dan itu bagus! Tapi mengapa saya tidak menikmati dan memiliki pandangan yang sama terhadap GGS, dsb?

Saya jadi berasumsi bahwa mungkin ini karena cara pandang kita terhadap budaya. Bagi kita, melihat film-film luar negeri berisi adegan yang “romatis”, cerita yang imajinatif adalah baik-baik saja, karena budaya mereka yang memang seperti itu. Nilai-nilai budaya mereka memperbolehkannya. Jadi kita bisa menerima jika para aktornya memerankan adegan dan cerita seperti itu.

Akan tetapi, budaya Indonesia tidak sama. Dibudaya kita, adegan “romantis” masih tabu untuk di pertontonkan. Para aktor yang masih usia sekolah, kita anggap tidak seharusnya memerankan adegan tersebut. Cerita yang terlihat terlalu mengada-ngada tidak sesuai mungkin dengan ajaran agama dan budaya Indonesia sendiri. Jadi kita menolaknya.

Kita melihat film luar negri dalam perspektif budaya mereka, dan film kita dalam perspektif budaya kita. Sebenarnya dalam psikologi, hal ini bagus, karena berarti kita tidak etnosentris dan kita berpikiran terbuka. Akan tetapi, saya merasa terkadang ini menjadi bentuk ketidak konsistenan sikap kita dan membawa bias budaya tersendiri.

well, segala yang saya tulis diatas, hanya berupa asumsi dari saya. Saya rasa saya masih harus mengkaji/intropeksi mengenai apa yang bisa saya toleransi dan bagaimana sebaiknya saya bersikap. Saya hanya berusaha untuk tidak bias budaya.

Sampai saat ini, saya masih merasa tayangan supernatural dalam negri tidak baik bagi perkembangan mental atau moral dalam jangka panjang. Tetapi, saya juga merasa bahwa imajinasi dalam menciptakan karya sci-fiction supernatural juga tidak seharusnya tidak dibatasi dan kita juga harus menghargainya. Mungkin akan ada jalan tengah dari segala asumsi saya tersebut. Atau mungkin ini adalah salah satu bentuk ambivalensi? Mari mengkaji!šŸ™‚

 

NB: Tulisan ini hanya asumsi dari apa yang saya rasakan dan pertanyakan. Tidak ada maksud untuk mempengaruhi/ membenarkan/ menyalahkan satu pihak atau pihak lain. Saya akan senang jika bisa berdiskusi dengan lebih lanjut dengan kalian.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s