Peran Media Sosial dalam melihat Kejadian

Beberapa saat lalu, kita dikejutkan dengan kejadian penembakan tiga muslim Amerika, dimana pelakunya adalah seorang kulit putih Amerika. Kejadian ini sempat menjadi trending topic di twitter karena respon masyarakat yang begitu besar, serta kekecewaan masyarakat yang terkesan menutupi berita tersebut. Hal tersebut terlihat dari kenyataan bahwa tidak ada satu pun media mainstream yang memberitakan kejadian tersebut. Banyak masyarakat berspekulasi bahwa hal tersebut disebabkan oleh korban yang muslim. Kalian bisa baca berita selengkapnya disini dan berita terkait lainnya.

Motif dari penembakan ini masih diselidiki oleh kepolisian Chapel Hill. Beberapa spekulasi sempat merebak di media sosial bahwa motif dari pembunuhan adalah terkait agama. Spekulasi tersebut didasarkan pada pelaku pembunuhan adalah seorang atheis, terlihat pada akun facebooknya (lihat disini).

Akan tetapi, spekulasi ini dibantah oleh istri pelaku yang mengatakan bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh suaminya bukanlah terkait agama. Istri pelaku mengatakan bahwa suaminya sempat terlibat cekcok dengan korban terkait parkir.

well, saya tidak akan membahas mengenai spekulasi motif yang sebenarnya melatar belakangi pembunuhan yang terjadi. Saya akan menyerahkan hal tersebut kepada kepolisian Chapel Hill untuk menyelidikinya. Saya memfokuskan untuk membahas tentang peran media sosial dalam melihat motif seseorang.

Saat ini, media sosial telah menjadi gaya hidup bahkan menjadi bagian dari diri kita sendiri! Kita menceritakan segala hal yang terkait diri kita dalam akun media sosial kita. Tak jarang, hal-hal yang tidak bisa kita ungkapkan di kehidupan nyata, kita ungkapkan dengan terbuka di akun media sosial.

Dari kejadian diatas, kita lihat bahwa spekulasi mengenai motif pembunuhan pun dapat dilihat dari akun media sosial si pelaku. Media sosial saat ini menjadi landasan yang “terpercaya” untuk mengetahui apa yang “sebenarnya” terjadi.

Beberapa perusahaan, bahkan terkadang melakukan penyelidikan akun media sosial saat menyeleksi calon karyawannya dalam serangkaian proses rekruitmen kerja. Tentu, jika sudah seperti itu kita harus bijak dalam mengelola akun media sosial kita.

Pasalnya, alih-alih menambah citra diri kita, akun media sosial justru dapat mengurangi citra diri kita yang sesungguhnya. Saya tidak meminta kita untuk kemudian menjadi faking good, hanya saja tidak ada salahnya untuk bersikap bijak dalam mengelola akun media sosial. Jangan sampai apa yang kita tulis, bagikan, atau tunjukkan di media sosial menurunkan/mematikan diri kita yang sebenarnya di dunia nyata. Media sosial sudah menjadi rujukkan dalam melihat berbagai kejadian, motif yang ada pada diri kita.

Selalu ada dua sisi, dalam segala hal yang kita lakukan. Orang bijak akan mengambil sisi positifnya, dan menjadikannya nilai tambah untuk dirinya. Sedangkan orang bodoh akan secara sukarela mengambil sisi negatifnya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s