[Review] Film Babel (2006)

babel_0

Beberapa saat lalu, saya menonton film Babel (2006). Awalnya saya menonton film ini untuk tugas Psikologi Lintas Budaya, tapi selama menonton saya menemukan beberapa hal menarik. Hal tersebut memotivasi saya untuk menulis review film ini.

Film Babel (2006), menceritakan mengenai kisah empat orang tokoh dari empat negara berbeda (Maroko, Amerika, Jepang dan Meksiko) yang sebenarnya tidak pernah berada dalam satu scene, tapi terkait satu sama lain.

Richard dan Susan adalah sepasang suami istri dari Amerika yang sedang melakukan perjalanan wisata ke Maroko. Ditengah perjalanan terjadi sebuah penembakan yang menyebabkan bahu dekat leher Susan terluka. Kepanikan terjadi seketika, diantara para turis Amerika dan Richard yang mengkhawatirkan istrinya. Richard berusaha mencari pertolongan dari warga sekitar sambil menunggu pertolongan dari kedutaan Amerika. Beberapa konflik terjadi selama perjalanan Richard mencari pertolongan.

Disisi lain, pelaku penembakan Susan adalah dua orang anak asli Maroko, Ahmed dan Yussef. Sebenarnya kedua kakak-beradik ini tidak melakukan penembakan secara sengaja ingin melukai seseorang. Mereka layaknya kakak adik lainnya berkompetisi satu sama lain, dalam hal ini mereka berkompetisi untuk membuktikan siapa yang paling hebat menembak dan menguji jarak tembakan mereka.

Tanpa mereka sadari, tembakan mereka melukai seorang warga Amerika dan menciptakan masalah bagi negara Maroko karena pihak Amerika mengira tembakan tersebut sebagai aksi terorisme. Saat ayah kakak-beradik ini mengetahui tentang perbuatan anaknya, ia mengajak anaknya untuk lari tapi tidak berhasil. Ditengah perjalanan, ,mereka bertemu dengan polisi, dan Ahmed tertembak. Yussef berusaha melindungi ayah dan saudaranya tapi malah berakhir melukai seorang polisi. Akhirnya melihat saudaranya sekarat, Yussef memutuskan untuk mengakui kesalahan mereka dan memohon kepada polisi untuk menyelamatkan nyawa saudaranya.

Amelia adalah pengasuh dari anak-anak Richad dan Susan. Amelia ingin menghadiri acara pernikahan anak lelakinya di Meksiko saat ia mendengar kabar bahwa majikannya tertembak di Maroko dan menyebabkan mereka tidak bisa pulang. Rencana awal, anak-anak akan diasuh oleh bibinya (adik Susan) saat Amelia pergi ke pesta anaknya. Akan tetapi pada hari H, ternyata adik Susan tidak bisa menjaga anak-anak menggantikan Amelia. Amelia pun memutuskan untuk membawa anak-anak ke Meksiko.

Masalah terjadi saat perjalanan pulang dari Meksiko. Diperbatasan Amelia mengalami masalah karena tidak bisa menunjukkan surat kuasa untuk membawa anak-anak ke Meksiko. Amelia dan keponakan yang mengantarnya, melarikan diri dari pemeriksaan di perbatasan, membuat mereka semakin dicurigai. Ditengah pelarian, keponakan Amelia, meninggalkan Amelia dan anak-anak ditengah gurun. Amelia melakukan segala cara untuk menyelamatkan dirinya dan anak-anak agar tetap hidup (mereka mengalami dehidrasi). Alhasil Amelia meminta pertolongan ke polisi akan tetapi setelah itu ia dideportasi dari Amerika karena dianggap imigran gelap.

Chieko, seorang gadis tuli di Jepang, merasa depresi karena dirinya yang tuli membuat ia tidak pernah melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis. Ia merasa depresi dan tidak percaya diri. Ia bahkan melakukan hal-hal yang tidak rasional (menurut saya) untuk dapat merasakan hubungan seksual. Chieko sendiri tidak ada hubungan langsung dengan tiga tokoh lainnya. Akan tetapi ayah Chieko adalah pemilik senapan yang digunakan oleh Yussef. Sebelumnya ayah Chieko adalah pemburu yang telah menjelajahi beberapa negara. saat ia berburu di Maroko, ia menghadiahkan senapannya kepada pemandu-nya sebagai bentuk terima kasih. Pemandu tersebut kemudian menjual senapan itu ke keluarga Yussef. Keluarga Yussef membelinya untuk memburu serigala yang sering memakan ternak mereka.

Beberapa konten dalam film ini mengandung unsur pornografi. Kalian bisa melewatkannya jika tidak sesuai dengan nilai pribadi kalian. Hal tersebut tidak mengurangi esensi dari setiap cerita secara signifikan.

Secara keseluruhan, film ini menjabarkan mengenai perbedaan disetiap budaya dan stereotip yang dimilikinya masing-masing. Prasangka akan stereotip yang melekat tersebut membuat komunikasi antar budaya menjadi terhambat dan menciptakan konflik-konflik.

Akhir cerita film ini sama sekali tidak Happy Ending! Tapi apa yang menarik adalah biarpun tidak Happy Ending, film ini benar-benar dapat menyentuh kehidupan realita. Sepanjang film kita dibawa untuk merasakan setiap emosi yang ada, dan pada akhir film kita secara sadar atau tidak, mencapai suatu kesimpulan bahwa saat kita ada dalam posisi mereka, kita akan melakukan hal yang sama.

Saya merekomendasikan film ini, pada kalian yang ingin melihat realita dalam sebuah film.đŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s